0

Aku, Tuan, Secangkir Kopi

coffee-house-large

Tuan, aku sedang terpikirkan untuk memutar sambungan telepon

yang akan menghubungkanku padamu

Tapi jemariku mendadak kaku

Kau tau kan, bisa jadi jemariku kaku karna kelamaan menekan tuts keyboard–ah aku belum bilang laptopnya milik bosku yang lama. Punyaku sedang rusak

Tuan, sebenarnya belum berapa lama musim berlalu semenjak terakhir kita berbincang. Aku benar-benar terpikirkan ingin menikmati secangkir kopi panas di hadapan kita. Aku mulai bisa mencium harumnya yang mungkin bisa membantu melemaskan saraf-sarafku yang menegang.

Tuan, aku benar-benar ingin berbincang denganmu, ditemani secangkir kopi panas, yang mungkin bisa membantuku mengurai segala benang kusut dalam pikiran. Aku mulai bisa merasakan cahaya remang dari kedai kopi yang umurnya mungkin tak jauh beda dari kakekku. Meski cahaya berpendar lemah, aku sepertinya memilih untuk memejamkan mata saja saat dalam satu tarikan napas aku mulai bercerita padamu tentang bertumpuk-tumpuk rasa yang mulai berkarat di dalam dada. Kau mungkin sudah tahu betul tabiatku yang suka bercerita–dan aku memang benar-benar banyak bercerita.

Tuan, ada banyak tanya yang menggantung di langit-langit kamarku, ah, bukan langit kamarku saja, aku melihatnya di langit-langit kantorku, aku melihatnya di trotoar, di halte bus, di stasiun kereta Bogor. Aku sudah berbicara dengan Tuan dari segala tuan yang ada di dunia. Pagi, siang, malam. Namun jawaban belum juga kutemukan. Maka, bisakah aku mendapatkannya dari kedua bola matamu?

Tuan, ternyata aku masih di sini, dan kamu masih entah di mana.

Bisakah kita berbincang, ditemani secangkir kopi?

0

[PUISI] Ode Penantian

aku berdoa pada Tuhan
agar jejak sepatumu yang kau tinggalkan di halaman rumahku
menjelma jadi sekumpulan bunga matahari
aku berdoa pada Tuhan
agar darah yang mengalir melalui rongga dadaku
menjelma jadi telaga yang dikelilingi padang ilalang
aku berdoa pada Tuhan
agar gravitasi yang lahir dari rahim bintang-bintang mati
melumat jarak dan waktu dalam pengharapan yang meremas tulang belulang

1

Surat untuk Arga

Teruntuk Arga,

Aku tahu, saat ini kamu sedang berjuang keras dengan impian yang telah kamu pupuk sejak bertahun-tahun lalu. Aku tahu, di balik senyum dan gaya santaimu itu, ada berapa banyak beban yang telah kamu pikul. Meski kadang kamu suka nyebelin dan sok tahu dan judgmental :p, tapi aku tau kamu adalah sosok pekerja keras yang ingin terus berubah, belajar jadi hamba-Nya yang lebih baik. Soal niat biar Allah dan kamu saja yang saling berbagi rahasia:p. Tapi aku menghargai kerja keras kamu. Kamu yang berusaha keluar dari zona nyamanmu yang hening, menuju tempat yang begitu sibuk, waktu yang mengalir deras, seperti keringat yang tak kunjung kering kau seka. Dan yang jauh lebih kusuka lagi, kau melakukannya dalam diam. Kau tak banyak bicara, tapi kau banyak kerja. Katanya tipe kamu tuh kayak ninja gitu deh, bergerak penuh cekatan dalam gelap, terus tau-tau berhasil mengalahkan musuhmu hehehe.

Stay humble, ya Ga. Stay true to Allah SWT. Tetap semangat! Kamu pasti akan mendapatkan sosok yang terbaik dari Allah … untuk menemani perjalananmu kembali pada-Nya, dengan segala perbekalan yang telah Ia berikan padamu, pada kalian. Ya, jodohmu itu pastinya sudah dirancang, sudah punya blue print, yang bakal compatible sama kamu. Mungkin kalian akan seperti Steve Jobs dan Steve Wozniak yang mendirikan kerajaan Apple kalian. Atau kalian seperti Habibie dan Ainun? Apapun itu, Allah tau yang terbaik untukmu.

Salam support selalu

Niken

0

Hujan dan Bintang

Aku memandangi layar ponselku yang memajang sebuah gambar jendela yang basah oleh rintik hujan. Di hadapan jendela itu membentang pemandangan bangunan-bangunan pabrik, gudang penyimpanan, satu-dua mobil, alat-alat berat. Inikah pemandangan yang kau saksikan setiap harinya? Lantas aku pun teringat, kau yang bercerita padaku, bahwa sudut yang menghadap jendela inilah yang kau sukai. Sudut itu menyulut imajimu, dan menggerakkan hati dan tanganmu untuk mengurainya menjadi tulisan.

Seperti apa ya sosokmu saat kau terpaku menatap jendela itu?

Dan aku pun teringat juga ceritamu soal kebiasaanmu memandangi bintang. Ketika di tengah malam yang hening kau terbangun dari tidurmu. Lalu kau akan meraih teleskopmu, dan memandangi kerlipnya. Meski mereka jauhnya melampaui ruang dan waktu, kau tetap merasa mereka adalah kawan-kawan dekatmu. Apa kau biasa bercerita dengan mereka? Aku tidak tahu.

Hujan. Bintang.

Semoga harapan dan impianmu terus menderas dan mengangkasa.

1

Twilight

That day

a gentle breeze singing in a warm light of
September twilight
From the corner of my eye
I saw silhouette of yours

slowly

A sudden heavy silence whispering

only

the sound of the heart
knocking the window of lonely soul

 Twilight

Word Origin
C15: literally: half-light (between day and night), from Old English twi- half + light1
1

Tentangmu

Ada harap menelusup
Berdegup
aku mencoba untuk mengeja
sesosok manusia
namun lidahku kelu
untuk merangkai kata
ada gelisah menari
pada tiap benang-benang asa yang kupintal

malam semakin panjang

Ada resah menggelitik
hingga ingin kupanjat langit rahasia
yang sembunyikan sebentuk wujud
yang ruhnya menggerusku pada tiap sujud

samudera
angkasa
awan gemawan
entah kemana lagi harus kucari
rindu yang ribuan tahun lalu tertawan

dan kau masih
serupa misteri
sebentuk imajinasi

 

 

(terinspirasi salah satunya dari lagunya Maliq yang judulnya Imajinasi)

 

P.S.: Judulnya belum sreg

0

Ternyata Saya Baru Paham

Ada banyak hal-hal di dunia ini yang sebenernya sudah jadi common sense tapi pahamnya kok ya belakangan. Salah satunya common sense bahwa jadi manusia itu harus jadi manusia yang sejahtera secara ekonomi, kalo bisa malah kaya raya haha. Saya selama ini sejujurnya bukan tipe yang terlalu memikirkan hal seperti itu. Apakah saya segitu zuhud-nya? Haha, tentunya tidak. Mungkin karena saya cenderung cuek, haha. Dan cenderung gampangin. Padahal ya tentu aja saya butuh duit. Mau makan butuh duit, beli baju butuh duit, dan salah satu kesukaan saya—beli buku—juga sangat butuh duit. Tapi ya mungkin pemahaman itu baru sebatas itu aja. Rezeki dicari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal ternyata setelah saya pikir-pikir (barusan haha), waah iya sejahtera, dan bahkan kaya, itu memang perlu banget. Kenapa?

Karena saya enggak mau masalah ekonomi sampai menghambat untuk bertumbuh di bidang yang lain.

Hah, maksudnya gimana tuh, Poy?

Maksudnya, jangan sampai ketika kita sudah berkeluarga kelak, kita akan direpotkan dengan urusan cari duit supaya anak bisa sekolah.

Lah, maksud lo enggak mau biayain anak lo sekolah gitu?

Ooh, bukan, bukan. Maksud saya, biaya pendidikan makin lama kabarnya akan makin mahal loh. Katanya artikel ini dan ini, kalo sekarang bisa mencapai ratusan juta rupiah, tahun-tahun mendatang, bisa mencapai miliaran! Nah loh! (Pingsan)

Sebagai anak yang datang dari keluarga yang tidak masuk kategori menengah ke atas, saya udah ngeliat sendiri contohnya dalam keluarga saya. Betapa susahnya ternyata perjuangan untuk bisa menyekolahkan anak-anak. Dan bagaimana urusan keuangan itu bisa menghimpit kehidupan kita dan jadi bahasan sehari-hari; ya duit buat makan kurang lah, ongkos kurang lah, kurang ini itu. Nah, kalo sehari-hari udah pusing sama hal begituan, gimanalah ceritanya mau mikirin hal yang lain? Semisal, memberikan pendidikan karakter dan agama yang benar bagi anak. Apalagi mikirin cita-cita keluarga, apalagi mikirin orang lain! (Novel aku juga piye entaaar hiks hiks)

Jadi, mumpung masih lajang (ahem), mari kita benar-benar memikirkan secara matang masa depan keuangan kita kelak. Banyak loh yang mesti kita pikirkan, soal pendidikan anak, soal rumah, dll. Apa? Sekarang lo masih kacau? Ah, enggak apa-apa, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya kok. Yuk pelan-pelan belajar soal kehidupan.